Jumat, 07 September 2012

Kitab Sang Hyang Kamahayanikan Bagian terakhir dari makalah Prof. Dr. Timbul Haryono seputar jejak Budhisme di Candi Borobudur





 
 Setelah tinggalan arkeologis, kini penelusuran jejak Budhisme melalui pemahaman agama Budha, stupa, dan mandala yang berkaitan dengan Borobudur. Salah satu kitab yang bisa digunakan untuk melihat bagaimana bentuk agama Buddha masa Borobudur adalah Kitab suci Sang Hyang Kamahayanikan, yaitu kitab tantris Buddhisme yang mendapat pengaruh atau pikiran Hindu. Memang ada banyak kitab suci agama Budha yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok atau Tripitaka (keranjang, kelompok, kumpulan) yaitu: (1) Dhamma (Sutta) pitaka, (2) Winayapitaka, dan (3) Abidhammapitaka dan kesemuanya berbahasa Pali.  Kitab Suttapitaka ada lima macam buku, yaitu Digha-Nikaya (± 904 halaman), Majjhimma Nikaya (± 1092 halaman), Samyutta-Nikaya (± 1686 halaman), Anguttara-Nikaya (± 1841 halaman), dan Khudda-Nikaya. Madzab Buddha kemudian pecah menjadi dua Hinayāna atau Madzab Therawada atau Sarwastiwada, dan madzab Mahāyāna atau Madhyamika (jalan tengah) atau lebih dikenal agama Budha Mahāyāna. Akhirnya menjadi aliran-aliran yang lebih kecil yaitu: Mahasangghika, Yogacara, Tantra, Wajrayāna.  Tantrayana juga dikenal dengan aliran Mantrayana.

Sang Hyang Kamahayanikan, beraliran Budha Mahayana dan berisi madzab Wajrayana atau Buddha Tantrayana kanan. Di dalam madzab Tantra, Saktisme menjadi penting dalam hal mantra-mantra atau lafal-lafal dan diagram serta mudra yang semuanya merupakan formula rahasia (mistis). Aliran ini berkembang sekitar tahun 400-600 Masehi sedangkan ilmu Tantrisme telah berkembang  sejak manusia mulai menetap dalam bentuk masyarakat agraris. Dalam Tantrayana terdapat dua liran besar yaitu aliran Tantrayana kiri dan Tantrayana kanan. Sedang Mahayana dibedakan antara madzab Wamaçari (kiri) dan madzab Daksinaçari (kanan).  Aliran kiri lebih diwujudkan dengan personifikasi Dewi atau Çakti sehingga ada yang menghubungkan dengan kecenderungan pada sex, sedangkan aliran kanan pada personifikasi dewata.

Tantrayāna adalah salah satu bentuk aliran Wajrayāna. Menurut para ahli Wajrayāna merupakan aliran kanan, sebagai lawan dari aliran Amoghawajra yang digolongkan aliran kiri. Intinya menitik beratkan pada ajaran mantra untuk mencapai kebebasan, maka lebih dikenal dengan nama Mantrayana, yaitu ajaran kebebasan melalui mantra. Ada aturan tertentu dalam pengucapan mantra. Misalnya, mantra yang ditujukan untuk kekuatan dewata selalu diakhiri dengan lafal ‘Hum’ atau ‘Phat’, sedangkan untuk Dewi diakhiri dengan ‘Swaha’ (swah); kalau untuk kedua-duanya diakhiri dengan lafal ‘Namah’.  Menurut ajaran Tantra, pelaksanaan  ajaran kebaktian dalam agama harus meliputi semua aspeknya yaitu: pikiran  (citta) – suara (wak)  dan badan (kaya). Ajaran Tantra mengawinkan kebutuhan jasmaniah dengan rohani untuk mencapai tingkat tertinggi melalui yoga. Pencapaian terakhir adalah tercapainya tingkat kesempurnaan bathin dan pikiran (tingkat Prajñaparamita), dan mencapai Tathāgata yaitu lima ‘Jina’ sebutan Yang menang atau Penakluk, gelar yang diberikan kepada Buddha.

Di dalam Tantra, kepribadian manusia adalah perwujudan skandha yang jumlahnya lima (Pañca-skandha) yaitu lima macam alat pengetahuan yang merupakan bagian-bagian yang tak terpisahkan dari badan materi. Konsep skandha ditingkatkan ke tingkat Buddha yang disebut dengan istilah Dhyani Buddha. Dhyani Buddha dipersamakan pula dengan lima bentuk Tathāgata: 1. Wairocana- pemberi sinar cahaya, 2. Aksobhya- Ia yang tak tergoda, 3.  Ratna Sambhawa- Ia adalah permata yang terlahirkan, 4. Amitabha- sinar cahaya  yang tidak terbatas, 5. Amoghasidhi- Ia yang selalu berhasil

Dengan demikian menjadi jelas bahwa ada hubungan antara penjelasan di dalam Kitab Sang Hyang Kamahayanikan dengan sistem lima Dhyani Buddha yang diterapkan di Candi Borobudur pada teras bujursangkar.

Di dalam Kitab Sang Hyang Kamahayanikan dijelaskan bahwa masa (waktu) dibagi menjadi tiga yaitu masa lampau (atīta), masa kini (wartamana), dan masa yang akan datang (anagata) dan masing-masing masa ada Buddha. Masa lalu ada Bhatara Wipaçye, Wiçwabhu, Krakucchanda, Kanakamuni, Kāçyapa. Budaha yang akan lahir di masa datang adalah Maitreya, Samntabhadra, dan Buddha yang sekarang adakah Sakyamuni yang berarti pendeta (muni) dari suku Sakya, gelar yang diberikan kepada Siddharta setelah menjadi Buddha. Sebelum menjadi Buddha, Sidharta juga mendapat sebutan  Sang Hyang Samādhi. Dijelaskan pula bahwa Bhatara Sakyamuni dapat menaklukkan Māra yang diartikan sebagai pikiran jahat atau pikiran yang menggoda. Menurut arti pengertiannya adalah penyebab penderitaan yang bersumber pada kekotoran (klesa), ikatan jasmaniah (benda-benda fisik (skandha), kematian (mrtyu), dan kejadian sebagai putra dewa (dewaputra). Klesa adalah noda duniawi, seperti kemabukan (mada), ambisi (dambha), kesrakahan (lobha), kebodohan (moha), nafsu kuasa (rajah), dan ketamakan (tamak). Moha adalah sumber kejahatan.

Sang Hyang Kamahayanikan menyebutkan bahwa pokok ajaran Sang Buddha adalah mengajarkan kebenaran laksana lingkaran atau roda (dharmacakra = roda kebenaran) dari sebab akibat dimana sebab yang satu adalah timbul dari akibat yang lain. Istilah untuk ini adalah Catur Arya dan Bhāwa Cakra, keduanya merupakan ajaran pokok Buddha. Catur Arya yaitu: (1) pengakuan bahwa hidup itu menderita, (2) penderitaan itu ada sebab-sebabnya, (3) sebab-sebab penderitaan dapat dilenyapkan, dan (4) ada jalan atau cara-cara untuk melenyapkan penderitaan.  Adapun Bhāwa Cakra adalah lingkaran kehidupan yang menggambarkan bahwa hidup adalah sebab dan akibat satu dengan yang lain yang disebut hukum Praticca Samuppada. Hidup sekarang adalah akibat dari hidup yang lalu dan yang sekarang adalah sebab untuk timbulnya akibat yang akan datang. Kesemua sebab berjumlah dua belas.

Sangat penting diperhatikan ayat 34 di dalam Sang Hyang Kamahayanikan menyebutkan: “apan ikang wwang awajñā, awamana,  masampe guru, ya ikāmulih ring naraka, tibā ring kawah sang Yama, pinakahitip ring tāmragomuka; mangkana pāpa ning wwang awamawana  maguru”. Artinya: “Sebab orang yang memandang rendah bathin sang guru, menghina, menentang kepada guru, ia akan selalu menderita, jatuh ke dalam kawah Dewa Yama, menjadi kerak tamragomuka, demikian papa nerakanya orang yang durhaka kepada guru”.

Di dalam relief Maha Karmawibhangga pada kaki tersembunyi digambarkan macam-macam neraka. Di antara relief penggambaran konsep hukum karma dan gambaran surga – neraka pada kaki candi Barabudur adalah: (1) berumur pendek- alpa-ayus, (2) berumur panjang     -dirgha-ayus, (3) hidup sehat- bahu-abadha, (4) hidup sehat- alpa-abadha, (5) hidup menyenangkan- prasadhika, (6) kurang wibawa-alpesakhya,(7)penuh wibawa-mahesakhya, (8) sebagai keluarga rendah-nisa-kula, (9) sebagai keluarga tinggi-ucca-kula, (10) orang miskin-alpa-bhoga, (11) orang kaya-mahabhoga, (12) orang bodoh-dusprajña, (13) orang pandai-mahaprajña, (14) siksa neraka-neraka sañjiva, (15) siksa neraka- neraka kalasutra, (16) siksa neraka -neraka samghata, (17) siksa neraka -neraka raurava, (18) siksa neraka  -neraka maha raurava, (19) siksa neraka-neraka tapana, (20) siksa neraka-neraka pratapana, (21) siksa neraka-neraka avici, (22) siksa neraka-kukula, (23) siksa neraka-kunapa, (24) siksa neraka-ksuradhara, (25) siksa neraka-ayahsalmalivana, (26) siksa neraka –asipattravana, (27) siksa neraka-ksaranadi
.

Gambaran hukum karma tersebut dengan jelas ditunjukkan oleh beberapa relief dan secara teknis pembedaan antara sebab dan akibat ditandai dengan gambar pohon. Pemisah adegan dengan gambar pohon mengingatkan kita pada pertunjukan wayang kulit (wayang purwa) yang juga menggunakan ‘kayon’ atau ‘gunungan’ sebagai penanda pergantian adegan. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa penggunaan ‘kayon’ dalam pertunjukan wayang kulit telah dimulai sejak abad ke-9.

Di antara penjelasan tentang jenis perbuatan serta akibatnya adalah sebagai berikut: Umur pendek, perbuatan buruk yang mengakibatkan dilahirkan kembali atau Umur panjang, soal perbuatan baik yang menyebabkan seseorang dilahirkan dengan umur panjang. Penderitaan atas suatu  penyakit; Cacat fisik dan buruk rupa; tentang orang yang berwajah menarik atau sebaliknya orang yang rendah dan hina; Dilahirkan menjadi orang yang terhormat; Dilahirkan kembali menjadi orang hina; Dilahirkan menjadi orang kelas atas; Dilahirkan menjadi orang yang miskin tidak memiliki harta benda; dan penjelasan penerima siksaan di neraka.

Jenis dan tipe neraka yang digambarkan karena kekejaman orang melakukan kejahatan fisik, kejahatan oral, kejahatan pikiran, menyangkal dan menolak Hukum Sebab-akibat, tidak mau bersyukur itu antara lain: 

Neraka Sanjiva.
Neraka Sanjiva adalah neraka yang macam siksaannya adalah  tubuhnya dipotong-potong dan kemudian dihancurleburkan. Ada juga siksaan berupa pertumbuhan kuku jari-jarinya panjang dan runcing eperti pisau, kemudian mereka saling berkelahi satu sama lain menyerang dengan kuku-kukunya yang tajam tersebut.  Siksaan ini dilukiskan dalam relief nomor  0-86b.

Neraka Utsada. 
Neraka Utsada adalah neraka yang terletak di antara neraka Sanjiva dan neraka Kalasutra. Relief  nomor 0-86c dan d tampaknya menlukiskan neraka Utsada. Sebagai gambaran penyebabnya adalah seseorang yang sedang menyembelih dan kemudian menguliti kambing. Gambaran siksaanya adalah ia dibelah kepalanya dengan gergaji, sementara penyiksa yang lain memperhatikan dengan memegang pisau besarnya.

Neraka Samghata. 
Gambaran penyiksaan di neraka Samghata di relief Barabudur nomor 0-87a dan b. Di neraka Samghata siksaanya adalah dijepit di antara dua gunung. Kemudian tubuhnya di injak gajah. Penyebabnya adalah ketika masa hidupnya ia mebunuh binatang, membakar rumah (liang) binatang.

Neraka Raurava dan Maharaurava. 
Gambaran siksaan di neraka Raurava dan Maharaurava lebih mengerikan lagi. Orang dipedang kepalanya, tubuhnya ditusuk dengan pedang panjang di pohon.

Neraka Tapana. 
Neraka Tapana adalah neraka api karena semasa hidupnya telah menyiksa dan memukuli orang tuanya. Relief nomor 0-88c dan d. Dalam relief digambarkan seekor anjing telah memakan salah satu kaki  orang yang disiksa dan kemudian membawanya ke sebuah rumah yang penuh api.

Neraka Pratapana. 
Relief Barabudur nomor 0-89a dan b kemungkinan sekali menggambarkan siksaan di neraka Pratapana. Orang dengan senangnya mencari kura-kura yang kemudian direbus untuk dimakan. Siksaan di neraka Pratapana adalah meraka direbus di dalam sebuah bejana besar.

Neraka Avici. 
Neraka Avici adalah neraka yang siksaannya tidak pernah berhenti atau terus-menerus. Dalam relief Barabudur nomor 0-89c dan d.  Gambaran siksaanya orang dilemparkan ke lautan api karena ketika hidupnya telah membunuh korban yang tidak berdosa yaitu ayahnya dan ibunya sendiri. Dalam hal ini membunuh ayah dan ibu kandung akan mengalami siksaan berat dan tidak berhenti.

Neraka Kukula. 
Neraka Kukula adalah neraka ‘abu yang terbakar’ dan gambaran tentang neraka Kukula adalah relief Barabudur nomor 0-90a dan b. Seseorang yang masuk di neraka Kukula tubuhnya akan masuk ke dalam abu yang sangat panas yang kemudian membakar kulit dan dagingnya  seperti ‘malam’ yang meleleh di dalam api. Ketika ia mengangkat kakinya, daging daan kulit akan tumbuh lagi, tetapi kemudian kembali dimasukkan ke neraka lagi, demikian secara terus-menerus. Orang yang mengalami siksaan di neraka Kukula tersebut karena semasa hidupnya telah melakukan perbuatan  yang sekarang disebut dengan istilah ‘ma lima’.

Neraka Kunapa
Neraka Kunapa adalah kelanjutan dari neraka Kukula. Setelah keluar dari neraka Kukula, tubuhnya kembali pulih. Namun kemudian dimasukkan ke dalam neraka Kunapa. Di dalam neraka ini, ia akan dimakan berbagai macam serangga yang tidak hanya memakan dagingnya saja, bahkan serangga masuk ke dalam tubuhnya melalui lubang hidung, telinga, kemudian menggerogoti organ dalam.

Borobudur adalah Stupa Besar
Stupa berasal dari akar kata ‘stup’, yang berarti ‘to accumulate, to gather together. Dalam istilah arsitektural adalah sebuah monument yang berbentuk dome yang diletakkan di atas relic Sang Buddha. Jadi stupa dapat diartikan sebagai ‘sepulchral monument’ yang biasa terdapat pada setiap Candi Buddha. Stupa kadangkala dibuat dalam bentuk miniature, juga sebagai votive gift. Pembangunan stupa adalah pekerjaan kebaktian karena akan mendatangkan kebaikan, dijelaskan di dalam naskah Mahayana tentang kebaikan yang akan diperoleh karena mendirikan stupa seperti kelahiran kembali yang baik. Bahwa barangsiapa membangun stupa, bahkan anak kecil sekalipun hanya bermain-main tanah pasir tapi dengan niat untuk dipersembahkan kepada Jina, akan memperoleh pencerahan karena stupa stupa secara simbolik melambangkan dharmma.

Stupa memiliki tiga fungsi: sebagai relic berisi abu Sang Buddha atau symbol  dharma, sebagai memorial menandai lokasi sebuah peristiwa selama Buddha hidup, dan juga sebagai persembahan sesaji. Menurut legenda kuna di India, ketika Sang Buddha memasuki parinirwana  tubuhnya kemudian dikremasi dan abunya dikumpulkan. Delapan orang raja kemudian berselisih memperebutkan sisa abu untuk dimiliki di kerajaannya. Akhirnya seorang pendeta bernama Drona mendamaikan dengan cara  membagi abu menjadi 8 bagian. Masing-masing raja  membawa abu yang menjadi bagiannya ke negaranya dan di sana ditempatkan di dalam sebuah stupa. Drona juga mendirikan stupa untuk menempatkan sebuah bejana yang tadinya digunakan untuk menyimpan abu sebelum diperebutkan.

Raja Asoka kemudian membagi abu yang tersimpan menjadi 84.000 bagian dan masing-masing bagian ditempatkan di dalam sebuah stupa yang didirikan di seluruh wilayah India. Stupa berisi sisa abu atau benda lain yang berkaitan dengan kehidupan Buddha sebagai ‘inti’ yang akan menyebabkan bangunan menjadi hidup karena relic sang Buddha pada hakikatnya dapat menghidupkan stupa. Namun demikian, tidak setiap stupa berisi relic, mungkin dibangun berkaitan dengan peristiwa hidup Sang Buddha. Kitab Mahāparinibānna Sutta Sang Buddha telah mengisahkan empat tempat yang harus diziarahi oleh umat Buddha setelah beliau wafat, yaitu: tempat kelahirannya, tempat memperolah pencerahan (wahyu), tempat ketika memberikan ajarannya yang pertama, dan tempat ketika beliau memasuki parinirwana yaitu di Kapilawastu tempat kelahiran, di Bodhgaya tempat menerima pencerahan, di Taman Rusaa Varanasi tempat kotbah pertama, dan di Kusinagara tempat wafatnya.  Sejak Sang Buddha memasuki parinirwana maka banyak stupa dibangun di berbagai belahan dunia.

Struktur bangunan stupa pada umumnya terbagi menjadi tiga bagian yaitu: dasar bujursangkar atau lingkaran, di atasnya adalah bagian badan stupa yang berbentuk bola (anda), dan di atasnya berupa pinakel(harmika) yang diberi hiasan motif payung (catra). Masing-masing bagian tersebut mempunyai makna simbolik. Setiap bentuk stupa memiliki aksis vertical. Badan stupa berkembang ke segala arah vertical maupun horizontal berasal dari aksis tersebut.

Stupa dan Mandala
Dalam bahasa Sanskrta, mandala berarti ‘lingkaran, space pusat yang digunakan untuk ritual’. Bentuknya sebuah lingkaran dibingkai garis bujur sangkar, digambarkan di permukaan tanah dengan sejenis tepung, atau dengan outline sebuah benang, atau digambar pada sebuah lembaran kain/kertaas.  Orientasi sebuah stupa adalah mandala, artinya perancangan tataletak stupa sama dengan menyusun sebuah mandala. Maka, Candi Borobudur sebagai stupa besar adalah sebuah mandala yaitu mandala massif (solid). Ia membentuk mandala lima Jina-Buddha, yang masing-masing menguasai mata angin: Vairocana di pusat, Aksobhya di timur, Ratnasambhawa di selatan, dan Amitabha di barat, Stupa seperti ini dengan lima Jina Buddha adalah ekspresi vajra-dhātu-mandala.
Menutup uraian ini kian memperjelas bahwa berbicara candi borobudur ibaratnya membahas sebuah buku teks. Banyak informasi yang tertera di dalam bangunan candi seperti Borobudur, membahasnya dalam konteks ruang, bentuk, dan waktu.

Serial terakhir dari paparan Prof. Dr. Timbul Haryono berjudul CANDI BOROBUDUR DALAM BINGKAI PERKEMBANGAN BUDHISME DI JAWA: PERSPEKTIF HISTORIS-ARKEOLOGIS, disampaikan dalam Seminar DPD HPI DIY berjudul Membaca Siddhartha & Budhisme di Candi Borobudur hari Sabtu, 16 Mei 2009  Pukul 09.00 – 13.00 WIB di Aula Dinas Pariwisata Propinsi DIY.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar